Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital, mulai dari bukti transfer palsu, tautan yang mengatasnamakan penyedia layanan keuangan, hingga permintaan kode one-time password (OTP).
Jika tidak dikenali sejak awal, modus tersebut dapat merugikan transaksi, mengganggu kelangsungan usaha, hingga berdampak pada keuangan keluarga.
Untuk meningkatkan kewaspadaan tersebut, PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), bagian dari Danantara Indonesia, menggagas Gerakan Ibu Cek Dulu. Program ini bertujuan memperkuat literasi keamanan transaksi digital, khususnya bagi perempuan pelaku UMKM.
VP Corporate Secretary Jalin, Putu Agnia, mengatakan perkembangan infrastruktur pembayaran perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai keamanan digital.
“Sebagai penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran nasional, Jalin ingin memastikan kemajuan teknologi pembayaran diimbangi dengan peningkatan literasi keamanan digital. Bagi perempuan pelaku UMKM, kemampuan ini penting untuk melindungi transaksi, keberlangsungan usaha, dan keuangan keluarga,” ujar Putu dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).
Program tersebut diawali dengan edukasi kepada 100 perempuan di Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan T.CARE dan melibatkan perempuan pelaku UMKM, ibu rumah tangga yang menjalankan usaha, kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta anggota komunitas perempuan.
Melalui program tersebut, peserta dibekali keterampilan untuk mengenali transaksi mencurigakan, melindungi data pribadi, dan menentukan langkah yang tepat saat menghadapi dugaan penipuan.
Materi disampaikan melalui Digital Safety Academy dengan pendekatan simulasi kasus sehari-hari. Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai cara mengamankan akun serta memanfaatkan kanal pengaduan resmi ketika menemukan indikasi penipuan.
Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan
Upaya edukasi ini dilakukan di tengah kesenjangan antara akses masyarakat terhadap layanan keuangan dan pemahaman dalam menggunakannya. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Indonesia tercatat sebesar 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan mencapai 69,57 persen.
Selisih kedua indeks tersebut mencapai 24,04 poin persentase. Angka ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan masih perlu diimbangi dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan agar masyarakat dapat memanfaatkannya secara aman.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, atau tumbuh 40,36 persen secara tahunan.
Meningkatnya aktivitas pembayaran digital membuat pemahaman mengenai keamanan transaksi semakin relevan, terutama bagi pelaku UMKM yang menggunakan layanan digital dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Target Jangkau 500 Penerima Manfaat Tambahan
Untuk memperluas jangkauan edukasi, Jalin membentuk lebih dari 100 duta keamanan digital melalui program Digital Safety Ambassador Activation.
Para duta akan dibekali perangkat edukasi Digital Safety Toolkit serta pendampingan untuk menyampaikan pengetahuan mengenai keamanan digital kepada masyarakat. Setiap duta ditargetkan mengedukasi sedikitnya lima orang.
Melalui skema tersebut, program ini menargetkan tambahan 500 penerima manfaat di luar 100 peserta awal.
Ke depan, Jalin berharap Gerakan Ibu Cek Dulu dapat menjangkau lebih banyak komunitas perempuan pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia melalui kolaborasi dengan mitra lokal.
Program ini diharapkan membantu perempuan pelaku usaha mengenali risiko penipuan, menjaga keamanan transaksi, serta melindungi keberlangsungan usaha dan keuangan keluarga di tengah meningkatnya penggunaan layanan pembayaran digital.













