News  

Coca-Cola hingga P&G Buka Peluang Naikkan Harga Produk pada 2027

Coca-Cola

Sejumlah perusahaan barang konsumsi dan makanan global, termasuk Coca-Cola, Procter & Gamble (P&G), Nestlé, dan Reckitt, membuka peluang menaikkan harga produk pada 2027. Langkah tersebut dipertimbangkan untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi, energi, bahan baku, dan pengiriman di tengah daya beli konsumen yang tertekan.

Dikutip dari Reuters, Kamis (29/10/2026), kenaikan biaya energi yang berkaitan dengan perang Amerika Serikat (AS) dan Iran turut mendorong kenaikan harga bahan baku serta ongkos logistik. Kondisi ini menekan produsen berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari deterjen dan minuman ringan hingga makanan ringan, untuk mempertahankan margin keuntungan.

Rencana kenaikan harga tersebut juga menambah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang berpotensi berlanjut hingga tahun depan. Sementara itu, tingginya harga bensin dan bahan makanan menjadi salah satu persoalan ekonomi yang memengaruhi konsumen AS menjelang pemilihan paruh waktu pada November 2026.

Tekanan biaya ini datang ketika industri barang konsumsi masih menghadapi tantangan penjualan yang relatif lesu sejak pandemi. Sebelumnya, perusahaan-perusahaan di sektor tersebut juga harus menghadapi tarif impor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.

Kepala ekuitas sekaligus manajer portofolio Aptus Capital Advisors dan investor PepsiCo, David Wagner, menilai kenaikan harga menjadi salah satu pilihan terakhir bagi perusahaan untuk menjaga keuntungan.

“Penetapan harga adalah satu-satunya senjata terakhir yang dimiliki perusahaan-perusahaan ini, dan mereka menggunakannya pada konsumen yang sudah tidak sanggup lagi membayar lebih,” kata Wagner, dikutip Reuters.

Coca-Cola dan Reckitt Waspadai Kenaikan Biaya

CEO Coca-Cola Henrique Braun sebelumnya memperingatkan bahwa tekanan yang dihadapi konsumen berpotensi berlanjut hingga 2027. Salah satu pemicunya adalah peningkatan ongkos logistik dan transportasi.

“Kami melihat tekanan biaya yang meningkat, didorong oleh peningkatan biaya logistik dan transportasi,” ujarnya.

Dalam beberapa kuartal terakhir, laju kenaikan harga produk kebutuhan sehari-hari memang melambat. Namun, perusahaan seperti Coca-Cola dan Nestlé masih konsisten menyesuaikan harga untuk menghadapi tekanan biaya.

Tantangan serupa dialami produsen produk rumah tangga dan perawatan kesehatan, Reckitt. CEO Reckitt Kris Licht mengatakan konsumen di Eropa dan Amerika Utara masih menghadapi tekanan ekonomi sehingga perusahaan harus berhati-hati dalam menentukan besaran kenaikan harga.

“Kita mungkin harus menetapkan harga lebih tinggi pada tingkat biaya komoditas dan biaya input ini,” kata Licht.

Menurutnya, perusahaan perlu memperhitungkan kenaikan biaya produksi tanpa mengabaikan kemampuan konsumen untuk membeli produk.

P&G Perkirakan Tekanan Biaya Capai US$ 1,4 Miliar

Produsen barang konsumsi Procter & Gamble juga memperkirakan kenaikan biaya akan memberikan tekanan lebih besar terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Chief Financial Officer P&G Andre Schulten mengatakan industri umumnya akan mempertimbangkan kenaikan harga ketika lonjakan biaya komoditas tidak lagi dapat ditanggung melalui efisiensi operasional.

“Pada tingkat tekanan komoditas seperti ini, industri umumnya menaikkan harga karena tidak ada cara untuk memulihkan tingkat tekanan komoditas ini tanpa menaikkan harga,” kata Schulten.

Produsen deterjen Tide, yang berada di bawah P&G, turut menghadapi kenaikan biaya bahan baku, energi, dan pengiriman. Perkiraan dampak terhadap laba perusahaan disebut meningkat menjadi US$ 1,4 miliar, dari sebelumnya US$ 1 miliar.

Kepala strategi pasar Zacks Investment Management Brian Mulberry mengatakan harga dan penjualan P&G relatif stabil pada kuartal terakhir. Namun, kenaikan biaya tetap menekan margin keuntungan perusahaan.

“Konsumen masih berbelanja jika melihat nilai yang ditawarkan. Namun, kita mungkin sudah mendekati batas harga tertinggi yang bersedia dibayar konsumen untuk makanan ringan,” kata Mulberry.

Nestle dan PepsiCo Hadapi Risiko Penurunan Penjualan

Di tengah tekanan biaya, perusahaan juga menghadapi risiko kehilangan pelanggan apabila kenaikan harga terlalu tinggi.

Produsen cokelat Swiss, Lindt & Sprüngli, misalnya, menghadapi tantangan setelah respons konsumen terhadap kenaikan harga produknya tidak sesuai perkiraan. Kondisi tersebut turut memunculkan kekhawatiran terhadap kinerja perusahaan dan berujung pada pergantian CEO.

Sementara itu, PepsiCo telah beberapa kali menaikkan dan menurunkan harga sepanjang 2026 untuk mendorong penjualan yang lesu. Meski melakukan penyesuaian harga, margin keuntungan perusahaan justru menyusut pada kuartal sebelumnya.

CFO Nestlé Anna Manz juga mengingatkan bahwa kenaikan harga dapat menekan volume penjualan dalam jangka pendek karena konsumen menyesuaikan pola belanja mereka.

Pekan lalu, Nestlé mencatatkan pertumbuhan volume penjualan kuartalan yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan harga untuk pertama kalinya sejak 2024. Namun, perusahaan kembali menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya input.

“Ke depan, kini kembali ada tekanan kenaikan pada biaya input,” kata Manz.

Ia menegaskan, Nestlé akan mempertimbangkan kemampuan konsumen dalam menentukan strategi harga agar kenaikan biaya tidak menggerus permintaan dalam jangka menengah.

“Kami akan menerapkan penetapan harga sejauh yang kami mampu tanpa merusak penetrasi konsumen dalam jangka menengah,” ujarnya.

Situasi tersebut memperlihatkan dilema yang dihadapi produsen barang konsumsi global. Di satu sisi, kenaikan harga dibutuhkan untuk menjaga margin keuntungan di tengah meningkatnya biaya produksi. Di sisi lain, kenaikan yang terlalu tinggi berisiko mendorong konsumen mengurangi pembelian atau beralih ke produk yang lebih murah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *